Headlines News :

LAYANAN TIKET PESAWAT MURAH

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSDTncoYmZszWl4Oa2s-GjwL3ZdHoH2BAzaKxTgxbhV6tc79qME7bBuf5Vos9Q5ipXEcwa17bmMv7G4C8rJNFtC_2Lz2MBinBQ7S9Y3jIpZn-DZtXDwlwJZsWsyfQdVf55v7JeN5CXpK3i/s1600/BK+TRavel+ok.gif

Label 3

Label 1

Trending Topik

Aristoteles


Filsuf dan filosofi

Aristoteles lahir di Stagirus, atau Stagira, atau Stageirus, di semenanjung Chalcidic Yunani utara. Ayahnya adalah Nicomachus, seorang dokter, sementara ibunya bernama Phaestis. Nicomachus sudah pasti tinggal di Chalcidice ketika Aristoteles lahir dan dia mungkin lahir di wilayah itu. Ibu Aristoteles, Phaestis, datang dari Chalcis di Euboea dan properti milik keluarga di sana. Wawasan dalam hidupnya dan waktu.

Aristoteles, salah satu mahasiswa Plato terbesar, dilahirkan pada tahun 384 SM. Ayah Aristoteles adalah seorang dokter kepada raja Mecadonia, dan ketika Aristoteles berusia tujuh tahun, ayahnya mengirim dia untuk belajar di Akademi. Dia ada di awal sebagai mahasiswa, kemudian menjadi seorang peneliti dan akhirnya guru. Dia tampak ide-ide Platonis diadopsi dan dikembangkan, sementara di sana dan telah menyatakan mereka dalam bentuk dialog. Ketika Plato meninggal, Plato berkehendak Akademi tidak Aristoteles, tetapi untuk Speusippus keponakannya. Aristoteles kemudian meninggalkan Athena dengan Xenocrates untuk pergi ke Asos, di Asia Kecil, di mana ia membuka cabang Akademi. Akademi ini lebih terfokus pada biologi dari pendahulunya yang bergantung pada matematika.

Di sana ia bertemu Hermias, mantan mahasiswa lain Plato, yang telah menjadi raja Assos. Aristoteles menikah Hermias keponakan, Pythias, yang meninggal sepuluh tahun kemudian. Selama tahun-tahun di Asos, Aristoteles mulai melepaskan diri dari Platonisme dan mengembangkan ide-ide sendiri.

Raja Philip dari Makedonia Aristoteles diundang ke gedung DPR sekitar 343 SM sampai gurunya Alexander tiga belas-telinga-tua don,. Les Alexander di Akademi di Asos, Aristoteles masih tetap presiden dari Akademi. Pada tahun 359 SM, ayah Alexander, Raja Philip memutuskan untuk berangkat untuk menaklukkan kota Yunani-negara, dan meninggalkan Alexander yang bertanggung jawab, sehingga menghentikan les Aristoteles Alexander.

Raja Philip kemudian dibunuh, pada 336 SM, dan Alexander kemudian menjadi raja. Dia mengerahkan pasukan besar ayahnya dan terjaganya beberapa negara-kota, sehingga menjadi "Alexander The Great".

Pada tahun 335 SM, Aristoteles kembali ke Athena. Speusippus telah meninggal, tetapi Aristoteles kembali tidak diberikan presiden Akademi di Athena, sebagai gantinya, itu diberikan kepada salah satu Xenocrates rekannya. Jadi, Aristoteles mendirikan sekolah sendiri saat ini, bernama Lyceum, dinamai Apollo Lyceus. Pada tahun 323 SM, dua belas tahun setelah mendirikan Lyceum, Alexander Agung meninggal. Dalam kebencian Yunani melawan hegemoni Makedonia mendidih dan kerusuhan pecah. Aristoteles dituduh dari tindakan tidak hormat, dan hidupnya menjadi dalam bahaya serius. Jadi ia meninggalkan Athena, dan pergi ke real mendiang ibunya di Chalcis di pulau Euboea. Ia meninggal di sana pada tahun berikutnya, 322 SM.
Aristoteles
Filsuf yang menjadi murid Plato selama 20 tahun ini dilahirkan di Stagira, suatu tempat di daerah Thracia, pada tahun 384 SM. Ia memiliki ayah yang berprofesi sebagai seorang dokter bernama Nicomachus dan ibunya bernama Phaestis (Inet, 1a). Aristoteles pernah dipanggil oleh Philippus II seorang raja Macedonia, untuk mendidik anaknya yaitu Iskandar atau yang biasa di negara barat disebut Alexander The Great. Pada tahun 323 SM, Iskandar wafat dan timbullah kerusuhan. Kejadian ini pun membuat Aristoteles tunggang langgang melarikan diri ke Khalkes, lalu setahun kemudian Aristoteles meninggal dunia (Delfgauuw, 29:1992).
Filsafat Aristoteles meliputi logika, metafisika dan fisika, teologi, tentang jiwa dan raga, dan pengenalan pengetahuan. Ini disimpulkan dari berbagai tulisannya selama hidup. Ada pun yang berupa kutipan perkataannya dan ditulis kembali oleh para muridnya.
Logika
Pembicaraan tentang logika biasanya bisa terkait dengan pertanyaan “logiskah orang bisa bernapas di luar angkasa?” Atau juga terkait dengan pernyataan ilmiah yang sifatnya kualitatif “dua dikalikan tiga sama dengan enam.” Ini merupakan pertanyaan dan pernyataan yang berkaitan dengan logika. Namun, logika yang disistematisasikan Aristoteles bukanlah logika semacam itu sehingga Aristoteles melainkan logika deduktif.
Menurut Aristoteles, setiap pengertian pasti berkaitan dengan suatu hal atau benda. Dengan pengertian ini orang bisa tahu bahwa orang mempersepsi kenyataan, ini berarti orang sudah mendapatkan gambaran tentang kenyataan (Hadiwijono, 46:2005). Gambaran ini bukan berarti mewakili seluruh kenyataan, gambaran ini hanyalah sepotong kenyataan. Untuk itu perlu diadakan penghubungan antara kenyataan satu dengan kenyataan yang lain sehingga mencapai keumuman tentang sesuatu yang mencakup segala kenyataan. Hal ini pun diperoleh dengan logika yang diperkenalkan oleh Aristoteles
Logika yang mampu memperoleh keumuman yang mencakup segala kenyataan ini dapat diberi contoh sebagai berikut: Toni punya kura-kura warna merah, Andi punya kura-kura warna hijau, dan Tina punya kura-kura warna kuning (masing-masing berupa substansi). Bagaimana pun warnanya, mereka memiliki kesamaan yaitu memiliki “kura-kura” (merupakan jenis). Lalu Septi punya kucing. Persamaan kura-kura dengan kucing adalah bahwa keduanya merupakan “binatang” (merupakan keluarga/genus). Hasilnya merupakan keumuman yaitu “binatang,” kura-kura merah, hijau dan kucing merupakan binatang. Sebenarnya binatang masih bisa diumumkan lagi menjadi anggota dari keumuman “makhluk yang bernapas,” atau “makhluk yang hidup.”
Logika seperti ini juga akan mengantarkan kepada suatu kesimpulan, yang merupakan hasil dari beberapa pertimbangan yang dijadikan satu. Misalnya: Binatang menyusui adalah mamalia, kucing dan kerbau menyusui anak-anaknya, berarti kucing dan kerbau adalah mamalia. Cara menyimpulkan seperti ini disebut Silogisme. Inti pokok dari logika Aristoteles ini adalah memberikan cara menalar dan membuktikan, ada dua pernyataan, lalu disimpulkan menjadi pernyataan ketiga (Delfgaauw, 31:1992). Hal ini sudah dijelaskan dengan contoh binatan menyusui di atas.
Metafisika dan Fisika
Konsepsi metafisika yang dibangun oleh Aristoteles tidak terjadi begitu saja, melainkan ada pemicunya. Pertama-tama, sudah dikenal bahwa Herakleitos berpendapat bahwa kenyataan ini adanya terus bergerak, dinamis, dan menjadi. Sedangkan Parmenides seperti yang kita ketahui menjadi lawan Herakleitos dalam berfilsafat tentang kenyataan, mengungkap bahwa kenyataan itu bersifat tetap adanya. Zeno pun mendukung Parmenides dengan memberikan beberapa contoh tentang itu, yaitu tentang pelari Yunani yang takkan bisa mengejar seekor kura-kura, dan busur panah yang ditembakkan hanya seolah-olah bergerak padahal sebenarnya hanya diam.
Persoalan ini dicoba untuk dipecahkan oleh Plato. Ia mengungkapkan bahwa memang ada yang berubah dan dikenal oleh pengamatan, di lain pihak ada juga yang tidak berubah yaitu ide dan dikenal sebagai akal (Hadiwijono, 48:2005). Dengan ini “yang ada” terbagi atas dua yaitu bentuk yang dapat diamati (yang tampak) sebagai sesuatu yang berubah dan bentuk yang tidak dapat diamati (yang tidak tampak) sebagai sesuatu yang tetap, tidak berubah.
Pemecahan Plato di atas tidak disetujui oleh Aristoteles karena berbagai alasan. Menurut Aristoteles “ada” hanya terdapat pada benda kongkrit. Benda konkrit itu merupakan benda yang nampak dan memiliki bentuk seperti pintu, batu, pohon, tanah dan sebagainya. Pengertian adanya sesuatu dalam ide seperti yang dikemukakan Plato bukanlah sebagai sesuatu yang kongkrit ada. Itu hanyalah pengertian saja.
Konsep Aristoteles yang disebut dunamis yang artinya potensi dan energeia yang artinya aksi merupakan inti sari ajaran Aristoteles tentang fisika dan metafisika (.ibid). Konsep ini pun sekaligus menentang pendapat Parmenides dan Zeno. Dunamis di sini potensi, maksud Aristoteles berkaitan dengan ke-ada-an adalah bahwa sesuatu “yang tidak ada” hanya dapat menjadi “yang ada” secara konkrit.
Cara menjadi “yang ada” dari “yang tidak ada” melalui potensi “yang ada” dengan kata lain “yang ada” merupakan suatu potensi atau bakat untuk menghasilkan yang tadinya tidak ada menjadi sesuatu yang ada bentuknya. Memang benar “yang tidak ada” merupakan nihil atau nol. Tetapi dari “yang ada” bisa mewujudkan sesuatu “yang tidak ada” menjadi ada, berwujud, dan berbentuk. Inilah yang dinamakan potensi. Oleh karena itu harus dibedakan antara “yang ada” dan “yang tidak ada” tetapi, keduanya tidak bisa dipisahkan karena “yang ada” merupakan potensi dalam mewujudkan sesuatu “yang tidak ada”.
Beranjak dari konsepsi di atas maka Aristoteles memiliki konsep tentang materi dan bentuk yang sesuai pula dengan caranya dalam mengkonsepsikan “yang ada” dan “yang tidak ada”. Materi adalah kenyataan yang belum terwujud, yang belum ditentukan, tetapi memiliki potensi untuk mewujud atau dibuat wujud, yang nantinya akan ditentukan oleh bentuk (Hadiwijono, 50:2005). Misalnya dalam kehidupan sehari-hari orang mengenal kayu bisa sebagai, kayu bakar, kayu sebagai hiasan, mebel, dan sebagainya. Sepotong kayu yaitu memiliki materi yaitu kayu dan memiliki bentuk misalnya silinder, kotak, panjang dan sebagainya. Oleh karena itu maka antara materi dan bentuk tidak dapat dipisahkan.
Teologi
Aristoteles mempercayai tentang adanya Tuhan, meski pun tidak disebutkan secara eksplisit bahwa ada Tuhan yang memerintah dan memberi wahyu. Tuhan menurut Aristoteles lebih kepada suatu yang Agung sebagai menggerakan segala sesuatu. Aristoteles percaya bahwa segala sesuatu memiliki suatu tujuan. Sehingga sampailah pada kesimpulan bahwa dunia ini bertujuan. Tujuan gerak yang ada di alam semesta merupakan gerak yang bertujuan bukan untuk mencapai kesempurnaan, melainkan untuk menuju sampai sang penggerak yaitu Aktus murni yang zaman sekarang biasa disebut sebagai Tuhan atau Allah.
Jiwa dan Raga
Filsafat Aristoteles begitu konsisten mulai dari logikanya sampai tentang metafisika dan fisika. Bahkan dalam menelaah tentang jiwa dan raga juga menggunakan konsep yang sama yaitu tentang. Materi, bentuk, potensi, dan aktus. Pembicaraan tentang jiwa merupakan pembicaraan yang sebenarnya abstrak tetapi dengan konsep bentuk Aristoteles orang bisa memahami bahwa jiwa dapat diandaikan sebagai suatu bentuk.
Aristoteles memiliki pendapat bahwa tubuh merupakan materi dan jiwa merupakan bentuknya. jika tubuh adalah potensi maka jiwa adalah aktusnya. Jiwa adalah aktus utama yang paling asasi, yang menyebabkan tubuh menjadi tubuh yang hidup, jiwa juga merupakan asas hidup dalam arti yang seluas-luasnya, yang menjadi asas segala arah hidup yang menggerakkan tubuh, yang memimpin segala perbuatan menuju kepada tujuannya.
Pengenalan Pengetahuan
Dalam mengenal sesuatu Aristoteles seperti Plato yaitu menguraikan tentang pengenalan inderawi dan pengenalan rasional. Aristoteles berpendapat bahwa pengenalan inderawi merupakan pengenalan awal dalam mengenal sesuatu. Sesuatu yang dimaksud adalah berupa pengenalan bentuk. Misalnya, orang bisa membedakan mana bunga dan mana batu. Dengan inderawi saja orang bisa tahu tentang hal itu. Tetapi sebagai awal mula pengenalan yang lebih ilmiah, pengenalan rasional adalah pijakannya.
Pengenalan rasional menjadi pijakan ilmiah dikarenakan, rasio dapat mengabstraksikan sesuatu. Bisa membedakan mana bunga yang cocok untuk diletakkan di taman, dan mana yang cocok di dalam ruangan. Dengan kata lain pengenalan rasional ini merupakan proses berpikir, sesuatu yang tidak akan dapat dicapai dengan cara pengenalan inderawi. Orang selalu tahu bahwa ada kertas, pulpen, kunci dan sebagainya. Tetapi tanpa pengenalan secara rasio orang akan kehilangan arahnya, misalnya ada tiga kunci dan satu pengunci (gembok) sudah pasti dengan pengenalan rasional orang akan mencocokkan mana yang kira-kira sesuai dengan gembok tersebut dan bisa lebih jauh berpikir dengan mencoba kuncinya satu persatu. Pengenalan inderawi di sini hanya sampai melihat bahwa ada tiga kunci yang berbeda dan satu gembok. Oleh karena itu pengenalan inderawi terbatas pada pengenalan bentuk saja.

Aristoteles tidak terutama matematika tetapi kontribusi yang penting dengan sistematis, logika deduktif. Dia menulis pada mata pelajaran fisik: beberapa bagian dari posteriora nya Analytica menunjukkan pemahaman yang tidak biasa dari metode matematika.

Ada sedikit keraguan bahwa Nicomachus akan Aristoteles ingin menjadi dokter, untuk tradisi adalah bahwa keterampilan medis dirahasiakan dan diturunkan dari ayah ke anak. Bukan masyarakat di mana orang mengunjungi seorang dokter tetapi itu adalah dokter yang melakukan perjalanan sepanjang negara cenderung orang sakit. Meskipun tahun-tahun awal Aristoteles kurang dikenal, sangat mungkin bahwa ia akan menemani ayahnya dalam perjalanan. Kita tahu bahwa Nicomachus menemukan kondisi di Chalcidice kurang memuaskan daripada di negara tetangga Makedonia dan ia mulai bekerja di sana dengan sukses begitu banyak bahwa ia segera ditunjuk sebagai dokter pribadi untuk Amyntas III, raja Makedonia.

Tidak ada catatan untuk menunjukkan apakah Aristoteles tinggal bersama ayahnya di Pella, ibukota Makedonia, sementara Nicomachus hadir untuk Amyntas raja di pengadilan di sana. Namun demikian, Aristoteles tentu ramah dengan Philip, putra raja Amyntas, beberapa tahun kemudian dan tampaknya masuk akal untuk mengasumsikan bahwa dua, yang hampir persis usia yang sama, telah menjadi ramah di Pella sebagai anak muda.

Ketika Aristoteles adalah sekitar sepuluh tahun ayahnya meninggal. Hal ini tentu berarti bahwa Aristoteles tidak bisa sekarang mengikuti profesi ayahnya dokter dan, karena ibunya tampaknya juga telah mati muda, Aristoteles diasuh oleh seorang wali, Proxenus dari Atarneus, yang pamannya (atau mungkin seorang teman keluarga sebagai disarankan oleh beberapa penulis). Proxenus diajarkan Yunani Aristoteles, retorika, dan puisi yang dilengkapi ajaran Nicomachus biologis yang telah diberikan Aristoteles sebagai bagian dari pelatihan anaknya dalam pengobatan. Karena dalam kehidupan kedua Aristoteles menulis prosa Yunani baik, ini juga harus menjadi bagian dari pendidikan awal.

Pada 367 SM Aristoteles, pada usia tujuh belas tahun, menjadi mahasiswa di Akademi Plato di Athena. Pada waktu yang Aristoteles bergabung dengan Academy itu telah beroperasi selama dua puluh tahun. Plato tidak berada di Athena, melainkan ia pada kunjungan pertama ke Syracuse. Kita tidak harus berpikir Plato's Academy sebagai organisasi non-politik hanya tertarik pada ide-ide abstrak. Akademi sangat terlibat dalam politik saat itu, dalam kunjungan sebenarnya Plato ke Sisilia adalah untuk alasan politik, dan politik dari Akademi dan seluruh daerah akan memainkan peran utama dalam mempengaruhi perjalanan hidup Aristoteles.

Dia tinggal di Plato's Academy sampai sekitar 347).
Meskipun seorang murid yang brilian, Aristoteles menentang beberapa ajaran Plato, dan ketika Plato meninggal, Aristoteles tidak ditunjuk ketua Akademi. Setelah meninggalkan Athena, Aristoteles menghabiskan beberapa waktu bepergian, dan mungkin belajar biologi, di Asia Kecil (sekarang Turki) dan pulau-pulau. Ia kembali ke Makedonia di 338 untuk tutor Alexander Agung, setelah Alexander menaklukkan Athena, Aristoteles kembali ke Athena dan mendirikan sekolah sendiri, yang dikenal sebagai Lyceum. Setelah kematian Alexander, Athena memberontak melawan kekuasaan Macedonia, dan situasi politik Aristoteles menjadi genting. Untuk menghindari dihukum mati, ia melarikan diri ke pulau Euboea, di mana ia meninggal segera setelah.

Aristoteles dikatakan telah menulis 150 risalah filosofis. 30 yang bertahan menyentuh pada serangkaian luas masalah filosofis, dari biologi dan fisika dengan moral untuk estetika untuk politik. Namun demikian, banyak dianggap "catatan kuliah" bukannya lengkap, risalah dipoles, dan beberapa mungkin bukan karya Aristoteles tetapi anggota sekolahnya.

Sedangkan guru Plato Aristoteles telah menemukan realitas terakhir di Ide atau bentuk kekal, dapat diketahui hanya melalui refleksi dan alasan, Aristoteles melihat realitas hakiki dalam objek fisik, dapat diketahui melalui pengalaman. Benda, termasuk organisme, yang terdiri dari potensi, masalah mereka, dan dari sebuah realitas, bentuk mereka, dengan demikian, satu blok marmer - materi - memiliki potensi untuk mengasumsikan bentuk apapun pematung memberikan penyakit, dan biji atau embrio memiliki potensi untuk tumbuh menjadi tanaman hidup atau bentuk binatang.

Dalam makhluk hidup, bentuk itu diidentifikasi dengan jiwa; tanaman memiliki jenis terendah jiwa, hewan jiwa tinggi yang bisa merasakan, dan manusia sendiri memiliki rasional, jiwa penalaran. Pada gilirannya, binatang itu dapat diklasifikasikan dengan cara hidup mereka, tindakan mereka, atau, yang paling penting, oleh bagian mereka.

Meskipun karya Aristoteles di zoologi bukan tanpa kesalahan, itu adalah sintesis termegah biologis dari waktu, dan tetap otoritas tertinggi selama berabad-abad setelah kematiannya. pengamatan-Nya pada anatomi gurita, sotong, krustasea, dan banyak invertebrata laut lainnya sangat akurat, dan hanya bisa telah dibuat dari pengalaman pertama tangan dengan pembedahan. Aristoteles menggambarkan perkembangan embrio ayam yang; ia membedakan paus dan lumba-lumba dari ikan, ia menggambarkan perut bilik dari ruminansia dan organisasi sosial dari lebah, ia melihat bahwa beberapa hiu melahirkan muda hidup - buku-bukunya pada hewan dipenuhi dengan seperti pengamatan, beberapa yang tidak dikonfirmasi sampai beberapa abad kemudian.

Aristoteles klasifikasi hewan dikelompokkan bersama hewan dengan karakter yang sama ke genera (digunakan dalam arti lebih luas daripada ahli biologi saat ini menggunakan istilah) dan kemudian membedakan spesies di dalam marga. Dia membagi hewan menjadi dua jenis: mereka dengan darah, dan mereka tanpa darah (atau setidaknya tanpa darah merah). Perbedaan-perbedaan ini berhubungan erat dengan perbedaan kami antara vertebrata dan invertebrata.

Hewan-hewan berdarah, sesuai dengan vertebrata, termasuk lima genera: hewan berkaki empat vivipar (mamalia), burung, hewan berkaki empat yg menelur (reptil dan amfibi), ikan, dan ikan paus (yang Aristoteles tidak menyadari adalah mamalia). Hewan-hewan berdarah diklasifikasikan sebagai cumi (seperti gurita itu), krustasea, serangga (yang termasuk laba-laba, kalajengking, dan lipan, selain apa yang sekarang kita definisikan sebagai serangga); dikupas hewan (seperti kebanyakan moluska dan echinodermata); dan "zoophytes," atau "tumbuhan-hewan," yang diduga mirip tanaman dalam bentuk mereka - seperti kebanyakan cnidaria.

pemikiran Aristoteles tentang ilmu bumi dapat ditemukan dalam bukunya Meteorologi risalah - kata ini berarti studi tentang cuaca, tetapi Aristoteles menggunakan kata dalam arti yang jauh lebih luas, yang meliputi, seperti yang ia katakan, "semua kasih sayang kita sebut umum udara dan air, dan jenis dan bagian-bagian bumi dan kasih sayang bagian-bagiannya. " Di sini ia membahas sifat bumi dan lautan.

Dia bekerja di luar siklus hidrologi: "Sekarang matahari, bergerak seperti halnya, membentuk proses-proses perubahan dan menjadi dan membusuk, dan oleh wakilnya air terbaik dan termanis adalah setiap hari dilakukan dan dilarutkan menjadi uap dan naik ke atas daerah, di mana ia kental lagi dengan kembali dingin dan sehingga untuk bumi. "

Dia membahas angin, gempa bumi (yang menurutnya disebabkan oleh angin bawah tanah), guntur, petir, pelangi, dan meteor, komet, dan Bima Sakti (yang menurutnya fenomena atmosfer). Modelnya sejarah Earth berisi beberapa ide yang terdengar sangat modern:

Bagian yang sama dari bumi tidak selalu lembab atau kering, tapi mereka berubah sesuai sebagai sungai masuk ke dalam keberadaan dan kering. Dan hubungan tanah kepada perubahan laut juga dan tempat tidak selalu tetap darat atau laut sepanjang masa, tapi di mana ada lahan kering akan datang kepada laut, dan di mana sekarang ada laut, ada satu hari datang untuk menjadi kering tanah. Tapi kita harus menganggap perubahan ini mengikuti beberapa ketertiban dan siklus. Prinsip dan menyebabkan perubahan ini adalah bahwa interior bumi tumbuh dan meluruh, seperti tubuh tanaman dan hewan. . . .

Tetapi proses penting seluruh bumi terjadi secara bertahap dan dalam periode waktu yang begitu besar dibandingkan dengan panjang hidup kita, bahwa perubahan ini tidak diamati, dan sebelum program mereka dapat direkam dari awal sampai akhir seluruh bangsa binasa dan hancur.

Dimana Aristoteles berbeda paling tajam dari pemikir abad pertengahan dan modern dalam keyakinannya bahwa alam semesta tidak pernah memiliki awal dan tidak pernah akan berakhir, itu adalah abadi. Ubah, untuk Aristoteles, adalah siklus: air, misalnya, mungkin menguap dari laut dan hujan turun lagi, dan sungai mungkin akan menjadi ada dan kemudian binasa, namun kondisi secara keseluruhan tidak akan pernah berubah.

Pada Abad Pertengahan, karya Aristoteles ditemukan kembali dan antusias diadopsi oleh para sarjana abad pertengahan. pengikut-Nya memanggilnya Ille Philosophus (The Philosopher), atau "master dari mereka yang tahu," dan banyak diterima setiap kata dari tulisan-tulisannya - atau setidaknya setiap kata yang tidak bertentangan dengan Alkitab - sebagai kebenaran abadi. Menyatu dan berdamai dengan ajaran Kristen ke dalam sistem filsafat yang dikenal sebagai SKOLASTIK, filsafat Aristoteles menjadi filsafat resmi dari Gereja Katolik Roma. Akibatnya, beberapa penemuan-penemuan ilmiah pada Abad Pertengahan dan Renaissance dikritik hanya karena mereka tidak ditemukan dalam Aristoteles. Ini adalah salah satu dari ironi sejarah ilmu yang tulisan-tulisan Aristoteles, yang dalam banyak kasus didasarkan pada pengamatan tangan pertama, digunakan untuk menghalangi ilmu observasional.

Sartre




Jean-Paul-Charles-Aymard Sartre lahir di Paris pada 21 Juni 1905. Ketika ayahnya meninggal, Jean-Paul hanya bulan lima belas tahun, dan sakit dengan enteritis. Ketika ia sembuh, ibunya membawanya untuk tinggal di rumah orang tuanya, di Meudon pada tahun 1907. Dia manja sebagai seorang anak dan ibunya adalah seperti yang ia katakan "dalam rantai" dan diperlakukan seperti anak kecil. Ia dibesarkan oleh ibunya dan neneknya sebagai seorang Katolik, tapi kakeknya menyodok menyenangkan pada agama, menjadi Protestan sendiri. Sekitar tahun 1909, ia menderita leucoma di mata kanannya, ini akan mengakibatkan membuatnya "setengah buta dan dinding-bermata." Pada tahun 1911, keluarganya meninggalkan Meudon dan pergi untuk tinggal di Paris. Ia belajar sendiri membaca pada usia yang sangat dini, dan menghabiskan banyak waktu di perpustakaan kakeknya yang besar. usaha pertama Nya di sekolah adalah bencana, ketika salah satu hari pertama kakeknya kecewa dengan kemajuan, dan menarik dia hari kedua.

Dia mulai les privat dan pada usia sembilan ia menghadiri sekolah umum dan kemudian sebuah sekolah swasta. Tuhan telah berhenti menjadi objek berarti iman untuk anak itu, karena ia berkata, "Gagal mengambil akar dalam hati saya, Dia bervegetasi dalam diri saya untuk sementara waktu, maka Dia meninggal." Dia mengambil untuk menulis, dan diduga oleh semua orang untuk mengakhiri penulis.


Pada saat ini ibunya menikah lagi, dan mereka pindah ke La Rochelle. Pada 1920, ia pindah kembali ke Paris, dan pada bulan Juni ia melewati bagian pertama dari sarjana muda, dan pada 1922 ia melewati bagian kedua. Dia menulis tesis di tahun 1927, tetapi gagal ujian, dan pada tahun 1929 ia tidak hanya lulus ujian dia ditempatkan pertama kali di dalamnya. Pada saat ini ia resmi bertunangan dengan seorang putri grosir. Kemudian, ia bertemu Simone de Beauvoir, yang telah menempatkan kedua pada ujian. hubungan dekat mereka bertahan selama lebih dari setengah abad, sampai kematiannya pada tahun 1980. Mereka tidak pernah menikah berpikir, mengatakan bahwa mereka tidak perlu untuk formalitas borjuis perkawinan.

Pada tahun 1938, ketika Hitler mengambil alih Sudetenland, Sartre terbagi antara pasifisme pribadinya dan perasaan anti-Nazi. Pada tahun 1939, keputusannya dibuat untuk dia ketika ia masuk tentara untuk melawan Hitler. Pada tanggal 21 Juni, 1940 ketika Jerman menginvasi Perancis, ia ditawan. Pada bulan Maret tahun 1941, ia melarikan diri dari kamp penjara. Bulan berikutnya, ia memulai Liberty Sosialisme dan kelompok perlawanan.


Pada bulan Oktober, ia mulai mengajar di Condorcet Lycee dan terlarut Sosialisme dan Liberty. Pada bulan Mei tahun 1944 dramanya Keluar No perdana. Dia mengatakan bahwa itu adalah "upaya untuk 'mengulang' Menjadi dan Nothingness dalam kata-kata yang berbeda." Pada bulan Juli tahun yang sama de Beauvoir dan ia melarikan diri dari Paris, dan mulai publikasi yang disebut, Modern Times. Pada tahun 1945, The Age of Reason diterbitkan.

Pada tahun 1950, Sartre mencela Tenaga Kerja Camps Soviet. Dan pada tahun berikutnya permainannya, Iblis dan Tuhan Baik, perdana. Dia bekerja di Modern Times untuk sementara waktu dan pada 1958, dia berpartisipasi dalam protes againist Perang Aljazair dan konferensi pers tentang hak asasi manusia.

Pada bulan Juni tahun 1961, setelah ia pindah ibunya ke hotel, dan de Beauvoir dan dia dibeli dan apartemen di Paris, itu bomded. Pada Januari mendatang, apartemennya bomded lain kali, dan kali ini ia memutuskan untuk pindah keluar dari sana. Pada tahun 1964, ia dianugerahi Hadiah Nobel untuk Sastra dan menolaknya dengan alasan prinsip. Ia menolak untuk dua alasan. Yang pertama adalah bahwa itu adalah sebagai protes itu yang diberikan hanya untuk penulis Barat, dan pembangkang Soviet. Kedua, ia takut bahwa ia mungkin akan berubah menjadi lembaga tersebut.

Pada tahun 1962 ia mengadopsi Arlette Elkaim, sebuah musican berbakat. Pada tahun 1970, Sartre menerima redaktur nominal untuk beberapa publikasi kiri. Pada tahun 1972, berpikir bahwa "Setiap orang adalah binatang politik," mulai ia untuk mengedit sebuah makalah yang disebut Pembebasan.

Pada tahun 1976, film dibuat di Paris tentang dia, dan ia menerima bentuk doktor Universitas Ibrani. Ini adalah saat ini bahwa ia mengklaim bahwa ia tidak lagi menjadi Marxis.

Sartre meninggal pada tanggal 15 April 1978, setelah kunjungan ke Israel dengan anak angkatnya.

SUKU BUGIS




Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan.

Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.

Perkembangan
Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan)

Masa Kerajaan

Kerajaan Bone
Di daerah Bone terjadi kekacauan selama tujuh generasi, yang kemudian muncul seorang To Manurung yang dikenal Manurungnge ri Matajang. Tujuh raja-raja kecil melantik Manurungnge ri Matajang sebagai raja mereka dengan nama Arumpone dan mereka menjadi dewan legislatif yang dikenal dengan istilah ade pitue.

KerajaanMakassar
Di abad ke-12, 13, dan 14 berdiri kerajaan Gowa, Soppeng, Bone, dan Wajo, yang diawali dengan krisis sosial, dimana orang saling memangsa laksana ikan. Kerajaan Makassar (Gowa) kemudian mendirikan kerajaan pendamping, yaitu kerajaan Tallo. Tapi dalam perkembangannya kerajaan kembar ini (Gowa & Tallo) kembali menyatu menjadi kerajaan Makassar (Gowa).

Kerajaan Soppeng
Di saat terjadi kekacauan, di Soppeng muncul dua orang To Manurung. Pertama, seorang wanita yang dikenal dengan nama Manurungnge ri Goarie yang kemudian memerintah Soppeng ri Aja. dan kedua, seorang laki-laki yang bernama La Temmamala Manurungnge ri Sekkanyili yang memerintah di Soppeng ri Lau. Akhirnya dua kerajaan kembar ini menjadi Kerajaaan Soppeng.

KerajaanWajo
Sementara kerajaan Wajo berasal dari komune-komune dari berbagai arah yang berkumpul di sekitar danau Lampulungeng yang dipimpin seorang yang memiliki kemampuan supranatural yang disebut puangnge ri lampulung. Sepeninggal beliau, komune tersebut berpindah ke Boli yang dipimpin oleh seseorang yang juga memiliki kemampuan supranatural. Datangnya Lapaukke seorang pangeran dari kerajaan Cina (Pammana) beberapa lama setelahnya, kemudian membangun kerajaan Cinnotabi. Selama lima generasi, kerajaan ini bubar dan terbentuk Kerajaan Wajo.

Konflik antar Kerajaan
Pada abad ke-15 ketika kerajaan Gowa dan Bone mulai menguat, dan Soppeng serta Wajo mulai muncul, maka terjadi konflik perbatasan dalam menguasai dominasi politik dan ekonomi antar kerajaan. Kerajaan Bone memperluas wilayahnya sehingga bertemu dengan wilayah Gowa di Bulukumba. Sementara, di utara, Bone bertemu Luwu di Sungai Walennae. Sedang Wajo, perlahan juga melakukan perluasan wilayah. Sementara Soppeng memperluas ke arah barat sampai di Barru. Perang antara Luwu dan Bone dimenangkan oleh Bone dan merampas payung kerajaan Luwu kemudian mempersaudarakan kerajaan mereka. Sungai Walennae adalah jalur ekonomi dari Danau Tempe dan Danau Sidenreng menuju Teluk Bone. Untuk mempertahankan posisinya, Luwu membangun aliansi dengan Wajo, dengan menyerang beberapa daerah Bone dan Sidenreng. Berikutnya wilayah Luwu semakin tergeser ke utara dan dikuasai Wajo melalui penaklukan ataupun penggabungan.

Wajo kemudian bergesek dengan Bone. Invasi Gowa kemudian merebut beberapa daerah Bone serta menaklukkan Wajo dan Soppeng. Untuk menghadapi hegemoni Gowa, Kerajaan Bone, Wajo dan Soppeng membuat aliansi yang disebut "tellumpoccoe".

Penyebaran Islam
Pada awal abad ke-17, datang penyiar agama Islam dari Minangkabau atas perintah Sultan Iskandar Muda dari Aceh. Mereka adalah Abdul Makmur (Datuk ri Bandang) yang mengislamkan Gowa dan Tallo, Suleiman (Datuk Patimang) menyebarkan Islam di Luwu, dan Nurdin Ariyani (Datuk ri Tiro) yang menyiarkan Islam di Bulukumba.

Kolonialisme Belanda
Pertengahan abad ke-17, terjadi persaingan yang tajam antara Gowa dengan VOC hingga terjadi beberapa kali pertempuran. Sementara Arumpone ditahan di Gowa dan  perlawanan yang dipimpin La Tenri Tatta Daeng Serang Arung Palakka. Arung Palakka didukung oleh
Turatea, kerajaaan kecil Makassar yang berhianat pada kerajaan Gowa. Sementara Sultan Hasanuddin didukung oleh menantunya La Tenri Lai Tosengngeng ArungMatowaWajo,MaradiaMandar, dan Datu Luwu. Perang yang dahsyat mengakibatkan banyaknya korban di pihak Gowa & sekutunya. Kekalahan ini mengakibatkan ditandatanganinya Perjanjian Bongaya yang merugikan kerajaan Gowa.

Pernikahan Lapatau dengan putri Datu Luwu, Datu Soppeng, dan Somba Gowa adalah sebuah proses rekonsiliasi atas konflik di jazirah Sulawesi Selatan. Setelah itu tidak adalagi perang yang besar sampai kemudian di tahun 1905-1906 setelah perlawanan Sultan Husain Karaeng Lembang Parang dan La Pawawoi Karaeng Segeri Arumpone dipadamkan, maka masyarakat Makassar dan Bugis baru bisa betul-betul ditaklukkan Belanda. Kosongnya kepemimpinan lokal mengakibatkan Belanda menerbitkan Korte Veklaring, yaitu perjanjian pendek tentang pengangkatan raja sebagai pemulihan kondisi kerajaan yang sempat lowong setelah penaklukan. Kerajaan tidak lagi berdaulat, tapi hanya sekedar perpanjangan tangan kekuasaaan pemerintah kolonial Hindia Belanda, sampai kemudian muncul Jepang menggeser Belanda hingga berdirinya NKRI.

Masa Kemerdekaan
Para raja-raja di Nusantara mendapat desakan oleh pemerintahan Orde Lama (Soekarno) untuk membubarkan kerajaan mereka dan melebur dalam wadah NKRI. Pada tahun 1950-1960an, Indonesia khususnya Sulawesi Selatan disibukkan dengan pemberontakan. Pemberontakan ini mengakibatkan banyak orang Bugis meninggalkan kampung halamannya. Pada zaman Orde Baru, budaya periferi seperti budaya di Sulawesi benar-benar dipinggirkan sehingga semakin terkikis. Sekarang generasi muda Makassar & Bugis adalah generasi yang lebih banyak mengkonsumsi budaya material sebagai akibat modernisasi, kehilangan jati diri akibat pendidikan pola Orde Baru yang meminggirkan budaya mereka. Seiring dengan arus reformasi, munculah wacana pemekaran. Daerah Mandar membentuk propinsi baru yaitu Sulawesi Barat. Kabupaten Luwu terpecah tiga daerah tingkat dua. Sementara banyak kecamatan dan desa/kelurahan juga dimekarkan. Namun sayangnya tanah tidak bertambah luas, malah semakin sempit akibat bertambahnya populasi dan transmigrasi.

Mata Pencaharian
Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.

Makassar Perantauan
Kepiawaian suku Makassar dalam mengarungi samudra cukup dikenal luas, dan wilayah perantauan mereka pun hingga Malaysia, Filipina, Brunei, Thailand, Australia, Madagaskar dan Afrika Selatan. Bahkan, di pinggiran kota Cape Town, Afrika Selatan terdapat sebuah suburb yang bernama Maccassar, sebagai tanda penduduk setempat mengingat tanah asal nenek moyang mereka

PenyebabMerantau
Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad ke-16, 17, 18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama di daerah pesisir. Selain itu budaya merantau juga didorong oleh keinginan akan kemerdekaan. Kebahagiaan dalam tradisi Bugis hanya dapat diraih melalui kemerdekaan.

Bugis diKalimantan Timur
Sebagian orang-orang Bugis Wajo dari kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap isi perjanjian Bongaja, mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya melawan Belanda dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya diantaranya ada yang hijrah ke daerah Kesultanan Kutai, yaitu rombongan yang dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama). Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajaan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai. Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampong melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan.
Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama didalam menghadapi musuh. Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan didalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).

Makassar & Bugis di Sumatera dan SemenanjungMalaysia
Setelah dikuasainya kerajaan Gowa oleh VOC pada pertengahan abad ke-17, banyak perantau Melayu dan Minangkabau yang menduduki jabatan di kerajaan Gowa bersama orang Bugis lainnya, ikut serta meninggalkan Sulawesi menuju kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Disini mereka turut terlibat dalam perebutan politik kerajaan-kerajaan Melayu. Hingga saat ini banyak raja-raja di Johor yang merupakan keturunan Makassar.

Pendidikan Sebuah Pengenalan dan Definisi



Filsafat pendidikan merupakan bidang filsafat terapan, mulanya juga dari bidang tradisional filsafat seperti ontologi, etika, epistemologi, me dan pendekatan (filsafat spekulatif, preskriptif, dan / atau analitis) untuk menjawab pertanyaan mengenai kebijakan pendidikan, perkembangan manusia, dan teori kurikulum. Dengan kata lain, filsafat pendidikan adalah studi filosofis tentang tujuan, proses, alam dan cita-cita pendidikan. Sebagai contoh, filsafat pendidikan mencakup hal berikut:
  • Mempelajari apa yang dimaksud dengan mengasuh dan mendidik
  • Mendalami dan mempelajari pengaplikasian nilai-nilai dan norma-norma lalu diterapkan melalui sistem pendidikan dan praktek pendidikan itu sendiri
  • Mempelajari batas-batas dan legitimasi pendidikan sebagai disiplin akademis
  • Mempelajari hubungan antara teori dan praktek pendidikan pada umumnya
Filsafat pendidikan dapat dianggap sebagai cabang dari filsafat mau pun pendidikan. Banyaknya cara dalam memahami pendidikan ditambah lagi dengan berbagai bidang dan pendekatan filsafat, membuat filsafat pendidikan tidak hanya menjadi bidang yang memiliki konteks sangat beragam, tetapi juga membuat filsafat pendidikan itu sendiri tidak mudah didefinisikan. Meskipun ada ketimpangan di sini, filsafat pendidikan tidak boleh digabungkan dengan teori pendidikan, alasannya tentu filsafat pendidikan tidak mendefinisikan secara  khusus karena teori pendidikan itu sendiri nantinya malah ditanyakan oleh filsafat :cool:Kalau teori pendidikan sama dengan filsafat pendidikan, nantinya bidang apa yang mem-verifikasi atau mengkritisi teori pendidikan? Soalnya ‘kan filsafat mempertanyakan segala teori dan berfungsi mensintesiskannya menjadi teori lebih baik.

Meskipun filsuf di seluruh dunia telah mengajukan pertanyaan mengenai pendidikan selama ribuan tahun, tetapi sebagai disiplin akademis (bidang akademis di universitas) filsafat pendidikan sendiri merupakan ‘ilmu’ baru. Hebatnya lagi filsafat pendidikan merupakan bidang internasional yang telah mapan bekerja sama dengan departemen

Metode Filsafat Pendidikan Progresivisme

Ada banyak aliran filsafat pendidikan mulai dari empirisme, pragmatisme, progresivisme, rekonstruksionisme sampai dengan mazhab pendidikan kritis. Kali ini akan dibahas secara singkat tentang aliran filsafat pendidikan progresivisme sekaligus metodenya dalam mengajar. Tokoh progresivisme yang cukup penting untuk diketahui adalah John Dewey dan William O. Stanley yang merupakan seorang profesor dari University of Illinois. Progresivisme dalam ranah filsafat pendidikan itu sendiri dapat didefinisikan sebagai prinsip yang menganggap bahwa pendidikan itu dimulai dari anak didik itu sendiri yang berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Jadi seorang anak didik tidak harus disuruh membaca dan mengimani buku secara terus menerus, tetapi juga harus bisa mencari jawaban otentik tentang mengapa begini dan mengapa begitu.
Aliran filsafat pendidikan progresivisme secara garis besar dapat diuraikan menjadi beberapa pokok yaitu:
  • Menolak praktek pendidikan tradisonal yang dianggap terlalu mementingkan disiplin, pasif, dan bertele-tele.
  • Perubahan merupakan inti dari kenyataan.
  • Pendidikan merupakan proses perubahan.
  • Metode atau kebijakan senantiasa berubah sesuai dengan perubahan lingkungan.
  • Mutu terletak pada adanya kemampuan untuk merekonstruksi pengalaman terus menerus, bukan pada standar kebaikan, kebenaran, dan keindahan yang abadi.
  • Pendidikan hendaklah merupakan kehidupan itu sendiri, bukan persiapan untuk hidup.
  • Belajar disangkutpautkan dengan minat subjek didik.
  • Belajar melalui pemecahan masalah lebih utama daripada belajar pasif.
  • Peranan pendidik bukan menuntun namun lebih sebagai pemberi nasihat.
  • Sekolah hendaknya mengembangkan kerjasama bukan persaingan. Adanya  demokrasi memungkinkan saling tukar menukar ide secara bebas yang amat berguna bagi perkembangan subjek didik. (Materi kuliah Filsafat Pendidikan)

Metode Filsafat Pendidikan Progresivisme

Pengaplikasian dari filsafat pendidikan progresivisme ini juga dapat dituangkan dalam bentuk metode yang riil. Metode mengajar dengan dasar filsafat pendidikan progresivisme antara lain adalah:
  • Memberikan soal latihan dalam bentuk teka-teki kepada anak didik.
  • Membuat kelompok atau grup belajar, dengan mengelompokkan minat masing-masing anak pada suatu topik.
  • Membicarakan topik hangat yang sedang beredar di masyarakat secara bersama-sama di dalam ruang kelas.
Masih banyak pengembangan metode filsafat pendidikan lainnya yang dapat diterapkan kepada anak didik. Tentunya berbagai metode yang akan digunakan harus diuji coba terlebih dahulu sehingga dapat diambil kesimpulan apakah sebuah metode mendidikan tepat digunakan atau tidak.

PAPPASEN



PAPPASENNA BATARA WAJO, LA TENRI BALI

“ aja, nasalaio nyamekkininnawa,
risalaiwi ri padanna tau namakurang cai,na.
maega a,dampenna,
tennapoadang padanna tau tennaponyamengnge, tessitinajae ininnawana,
naia riasengnge lempu, tekkacinnai, tennaeloreng maja padanna tau , nametau ri Dewata seuae ..”
artinya….
“ …Janganlah engkau ditinggalkan oleh nyaman pikiran ( baik hati ) serta kejujuran! Yang dimaksud ” nyaman pikiran ” ialah bila dipersalahkan oleh sesamanya manusia lalu kurang amarahnya, banyak maafnya, dan mengatakan sesuatu kepada sesamanya manusia yang tidak disukainya dan yang tidak patut menurut pikiran orang itu. Yang dimaksud dengan ” jujur ” ialah tidak berkeinginan yang melampaui batas dan tidak bermaksud buruk terhadap sesamanya manusia serta takut kepada Dewata Yang Esa...”
( Sumber: Buku Wajo Abad ke XIV. )












PAPASENNA
LA TENRITAU MA,DANRENGNGE RI MAJAULENG

“…   Aja nasalaiko acca sibawa lempu,
Naia riasengnge “ acca “ , de gau masussa napogau, de,to ada masussa nabali, ada madeceng malemma,e tappe ri padanna tau.
Naia ri asengnge “ lempu “ , makessingnge gau,na patujui nawa – nawanna, madeceng ampena, nametau ri Dewata seuae...”

Artinya
“ ...Janganlah engkau ditinggalkan oleh kecakapan dan kejujuran !
yang di maksud cakap ialah tidak ada pekerjaan yang sukar dikerjakannya dan tidak ada pula pertanyaan yang sukar di jawabnya, yaitu kata yang baik dan lembut melekat pada orang lain.
Yamg dimaksud “ Jujur “ baik perbuatannya, benar pikirannya, baik tabiatnya dan takut kepada Dewata Yang Esa ...”
( Sumber: Buku Wajo Abad ke XIV. )









PAPASENNA
LA TENRI PEKKA MA,DANRENGNGE RI SABBANGPARU

“…   Aja nasalaio isseng madeceng !
Naia riasengnge “ isseng madeceng “ , na issengngi mdecengnge napogau.i , najeppuiwi maja.e natettangngi, nametau ri dewata seuae namasiri, ri padanna tau....”

Artinya
“ ...Janganlah engkau ditinggalkan oleh ilmu pengetahuan yang baik !
yang di maksud pengetahuan yang baik  ialah diketahuinya yang baik lalu dikerjakannya, diketahuinya yang buruk dan ditinggalkannya serta takut kepada Dewata Yang Esa dan menghormati harkat dan martabat sesamanya manusia...”
( Sumber: Buku Wajo Abad ke XIV. )














PAPASENNA
LA MATARENG  MA,DANRENGNGE RI TEKKALALLA

“…   Aja nasalaiko tongeng sibawa nyamekkininnawa, teppasillaingengengi seajinna mawe, mabela enrengnge taniae seajinna. Nakkamaseang maneng nasappareng deceng tennaeloreng maja, nametau ri Dewata Seuae…”

Artinya
“ ...Janganlah engkau ditinggalkan oleh kebenaran dan baik hati yaitu tidak membedakan sanaknya yang dekat dan yang jauh serta yang bukan sanaknya . disayanginya semua, dicarikan kebaikan, tidak bermaksud buruk terhadapnya dan ia takut kepada Dewata Yang Esa ...”
( Sumber: Buku Wajo Abad ke XIV. )





Muhammad Husayn Thabathaba’i



Darakah, sebuah desa kecil di sisi pegunungan dekat Teheran, di tempat inilah Allamah Thabathaba’i menghabiskan bulan-bulan musim panas, menyingkir dari panas Kota Qum, kediamannya. Di desa inilah Profesor Kenneth Morgan, seorang orientalis terkemuka berkunjung untuk memintanya menulis mengenai pandangan-pandangan Islam Syi’ah untuk masyarakat intelektual Barat. Dengan kemampuannya yang mumpuni dan penguasaannya pada ilmu-ilmu Islam tradisional serta pengenalannya terhadap pemikiran Barat menjadikan Allamah Thabathaba’i memang orang yang tepat untuk menulis hal tersebut.
Di dalam dirinya terdapat kerendahhatian dan kemampuan analisis intelektualnya bergabung. Dalam kelompok ulama tradisional Allamah Thabathaba’i memiliki kelebihan sebagai seorang Syaikh dalam bidang Syariat dan ilmu-ilmu esoteris, sekaligus seorang hakim (filosof atau, tepatnya, teosof Islam tradisonal) terkemuka. Allamah Thabathaba’i telah membaktikan segenap hidupnya untuk mengkaji agama. Sebuah dedikasi tinggi terhadap perkembangan ilmu-ilmu Islam dan ilmu pengetahuan pada umumnya.
Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’i dilahirkan di Tabriz pada tahun 1321 H /1903 M, dari suatu keluarga keturunan Nabi Muhammad yang selama empatbelas generasi telah menghasilkan ulama-ulama Islam terkemuka. Ia memperoleh pendidikan di kota kediamannya, menguasai unsur-unsur bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama, dan ketika usia duapuluh tahun berangkat ke Universitas Najaf untuk melanjutkan pelajarannya. Disana ia mempelajari Syariat dan ushul al-fiqh dari dua diantara syaikh-syaikh terkemuka masa itu yaitu Mirza Muhammad Husain Na’ini dan Syaikh Muhammad Husain Isfahani.
Namun menjadi Mujtahid bukan tujuannya. Thabathaba’i lebih tertarik pada ilmu-ilmu aqliah, dan mempelajari dengan tekun seluruh dasar matematika tradisional dari Sayyid Abul Qasim Khwansari, dan filsafat Islam tradisional, termasuk naskah baku asy-Syifa karya Ibnu Sina dan al-Asfar karya Sadr al-Din Syirazi serta Tamhid al-Qawa’id karya Ibnu Turkah dari Sayyid Husain Badkuba’i.
Thabathaba’i juga mempelajari ‘ilm Hudhuri (ilmu-ilmu yang dipelajari langsung dari Allah SWT), atau ma’rifat, yang melaluinya pengetahuan menjelma menjadi penampakan hakekat-hakekat supranatural. Gurunya, Mirza Ali Qadhi, yang mulai membimbingnya ke arah rahasia-rahasia Ilahi dan menuntunnya dalam perjalananan menuju kesempurnaan spritual. Sebelum berjumpa dengan Syaikh ini, Thabathaba’i mengira telah benar-benar mengerti buku Fushulli al-Hikam karya Ibn Arabi. Namun ketika bertemu dengan Syaikh besar ini, ia baru sadar bahwa sebenarnya ia belum tahu apa-apa. Berkat sang Syaikh ini, tahun-tahun di Najaf tak hanya menjadi kurun pencapaian intelektual, melainkan juga kezuhudan dan praktek-praktek spritual yang memampukannya untuk mencapai keadaan realisasi spritual.
Pada 1934 Allamah Thabathaba’i kembali ke Tabriz dan menghabiskan beberapa tahun yang sunyi di kota itu, mengajar sejumlah kecil murid. Kejadian-kejadian pada Perang Dunia Kedua dan pendudukan Rusia atas Persialah yang membawa Allamah Thabathaba’i dari Tabriz ke Qum (1945). Pada waktu itu, dan seterusnya sampai sekarang, Qum merupakan pusat pengkajian keagamaan di Persia. Ia mengajar tafsir Qur’an serta filsafat dan teosofi tradisional, yang selama bertahun-tahun sebelumnya tidak diajarkan di Qum.
Dengan demikian Allamah Thabathaba’i telah memberikan pengaruh yang amat besar, baik di dalam basis tradisional maupun modern. Dia telah mencoba untuk menciptakan suatu elite intelektual baru di kalangan kelompok masyarakat berpendidikan modern yang ingin menjadi akrab dengan intelektualitas Islam di samping dengan dunia modern. Banyak murid tradisionalnya yang termasuk kelompok ulama telah mencoba untuk mengikuti teladannya dalam upayanya yang amat penting ini. Beberapa muridnya seperti Sayyid Jalal al-Din Asytiyani dari Universitas Masyhad dan Murtadha Muthahhari dari universitas Teheran juga dikenal sebagai sarjana yang mempunyai reputasi istimewa.
Dia adalah pribadi yang agung, yang telah mencurahkan segenap hidupnya untuk didekasikan kepada kebenaran. Kecintaannya pada ilmu telah mengejawantah dalam pribadi agung ini. Dia telah menjadi lambang dari suatu tradisi panjang kesarjanaan dan ilmu-ilmu tradisional Islam. Kehadirannya meniupkan suatu aroma dari pribadi yang telah mendapatkan buah Pengetahuan Ketuhanan. Ia mencontohkan dalam kepribadiannya, kemuliaan, kerendahhatian dan kecintaannya pada kebenaran, yang selama berabad-abad telah terdapat dalam pribadi-pribadi Muslim sejati.


Muhammad Baqir ash-Shadr



Wacana ilmiah yang berkembang di dunia Islam sekarang ini telah semakin mengedepan dalam menjawab tantangan masyarakat ilmiah barat. Pada masa sebelum abad dua puluh untuk menjawab tantangan para pemikir Barat, para intelektual Islam lebih banyak berapologi. Hal ini terjadi karena tertutupnya pintu ijtihad dan tengelamnya kajian-kajian filsafat khususnya di dunia Islam Sunni, serta kurang terinformasinya karya-karya pemikir barat di kalangan pemikir Islam.
Muhammad Baqir Ash-Shadr adalah sedikit dari tokoh-tokoh Islam yang mampu berbicara dengan fasihnya pemikiran-pemikiran Barat. Kesan apologi yang selama ini melekat pada pemikir Islam, ia tepis dengan kejernihan dan kecerdasan pemikirannya. Ia begitu akrab dengan karya-karya pemikir Islam klasik maupun modern, tapi ia juga paham pemikiran-pemikiran Barat yang berkembang. Dalam karyanya yang terkenal yaitu Falsatuna dan Iqtishaduna ia dengan fasihnya mengutarakan kritik-kritik terhadap pemikiran Barat seperti Karl Marx, Descartes, John Locke dan lain-lain.
Falsafatuna dan Iqtishaduna telah mencuatkan Mehammad Baqir Shadr sebagai teoritisi kebangkitan Islam terkemuka. Sistem filsafat dan ekonomi alternatif ini disempurnakan melalui masyarakat dan lembaga. Dalam Falsafatuna dan Iqtishaduna, Baqir Shadr ingin menyajikan kritik yang serius terhadap aliran marxisme dan kapitalisme. Buku ini baik dari segi sturuktur maupun metodologi, tak diragukan lagi inilah sumbangsih paling serius dan paling banyak disaluti di bidang ini.
Muhammad Baqir As-Sayyid Haidar Ibn Ismail Ash-Shadr, seorang sarjana, ulama, guru dan tokoh politik, lahir di Kazimain, Baghdad, Irak pada 25 DzulQaidah 1353H/1 Maret 1935 M dari keluarga religius. Pada usia empat tahun, Muhammad Baqir Ash-Shadr kehilangan ayahnya, dan kemudian diasuh oleh ibunya yang religius dan kakak laki-lakinya, Ismail, yang juga seorang mujtahid kenamaan di Irak. Muhammad Baqir Ash-Shadr menunjukkan tanda-tanda kejeniusan sejak usia kanak-kanak. Pada usia sepuluh tahun, dia berceramah tentang sejarah Islam, dan juga tentang beberapa aspek lain tentang kultur Islam. Dia mampu menangkap isu-isu teologis yang sulit dan bahkan tanpa bantuan seorang guru pun. Ketika usia sebelas tahun, dia mengambil studi logika, dan menulis sebuah buku yang mengkritik para filosof.
Pada usia tiga belas tahun, kakaknya mengajarkan kepadanya ‘Ushul ‘ilm al-fiqh (asas-asas ilmu tentang prinsip-prinsip hukum Islam yang terdiri atas Al-Qur’an, Hadis, Ijma’ dan Qiyas). Pada usia sekitar enam belas tahun, dia pergi ke Najaf untuk menuntut pendidikan yang lebih baik dalam berbagai cabang ilmu-ilmu Islami. Sekitar empat tahun kemudian, dia menulis sebuah ensiklopedi tentang ‘Ushul, Ghayat Al-Fikr fi Al-’Ushul (pemikiran puncak dalam ‘Ushul). Muhammad Baqir Ash-Shadr menjadi seorang mujtahid pada usia tiga puluh tahun.
Sebagai salah seorang pemikir yang paling terkemuka, Muhammad Baqir Ash-Shadr melambangkan kebangkitan intelektual yang berlangsung di Najaf antara 1950-1980. Ciri lain yang mencolok dari kebangkitan itu adalah dimensi politiknya, dan saling pengaruh antara apa yang terjadi di lorong gelap dan sekolah tinggi berdebu Najaf, dan Timur-Tengah pada umumnya. Peristiwa pengeksekusian Shadr bersama saudara perempuannya yang bernama Bint Al-Huda pada 8 April 1980, barangkali ini merupakan titik puncak tantangan terhadap Islam di Irak. Dengan meninggalnya Shadr, Irak kehilangan aktivis Islamnya yang paling penting.
Tapi ketenaran Shadr justru setelah ia dihukum gantung oleh pemerintahan Irak. Reputasi Shadr semenjak itu diakui di berbagai kalangan masyarakat. Namanya telah melintasi Mediterania, ke Eropa dan Amerika Serikat. Pada 1981, Hanna Batatu, dalam sebuah artikel di Middle East Journal di Washington, menunjukkan pada orang-orang pentingnya Shadr bagi gerakan bawah tanah Syi’ah di Irak. Pada 1984, Istishaduna diterjemahkan sebagian ke dalam bahasa Jerman, disertai mukadimah panjang mengenal alim Syi’ah ini oleh seorang orientalis muda Jerman. Jadi tidak mungkin lagi mengabaikan nilai penting Muhammad Baqir Ash-Shadr dalam kebangkitan berbagai gerakan politk Islam, di Irak, di dunia Syi’ah dan di dunia Muslim pada umumnya.


 

Kabar Video

">Index »'); document.write('

?max-results=10">Pendidikan

');
  • ?max-results="+numposts1+"&orderby=published&alt=json-in-script&callback=showrecentposts1\"><\/script>");
">Index »'); document.write('

?max-results=10">Politik

');
  • ?max-results="+numposts1+"&orderby=published&alt=json-in-script&callback=showrecentposts1\"><\/script>");

Pendidikan

.

Tes Footer

Support : twitter@wajoterkini | facebook WAJOTERKINI.com | PinBB: 2A9F133B | Google@wajoterkini
Copyright © 2011. Kawali News - All Rights Reserved
Template Created by Published by Bakri Grafika
Proudly powered by wajoterkini